°PROLOG°
Memandang langit mendung sore itu, Giza membiarkan wajahnya terkena air hujan yang semakin deras.
Giza menangis diantara hujan itu, dia menutup matanya dan membiarkan air hujan membasahi wajah putih mulusnya. Beberapa saat berbaring dengan tetesan hujan, kini jilbab peace panjang yang dikenakannya telah basah dan kotor tersiram air hujan, Giza menepi dan duduk di salahsatu bangku taman di belakang kampus yang memiliki atap.
Matanya melirik sekitar. Sadar bahwa dia tak berteduh sendirian. Ada seseorang yang sejak tadi setia menemaninya dari kejauhan, wajahnya kuyu dibalik balutan jilbab biru panjangnya.
Jam sudah menunjukan pukul 17;31WIB , Membuat sore itu semakin dingin, dan giza bersin berulang kali, sampai beberapa saat setelahnya gadis yang duduk di ujung kursi yang giza duduki beranjak dari tempatnya dan berjalan menghampirinya,
"Za, untuk apa kamu mendzolimi dirimu seperti ini? Karena percuma, air mata tidak akan merubah apapun yang telah berlalu." Ucap Vela, gadis berjilbab biru itu sahabatnya sejak lima tahun yang lalu. Ucapannya membuat giza mendongak dengan wajah kuyu-nya. giza melihat Ada kata yang tersisa yang belum tersampaikan dari wajah sahabatnya. "Kenapa kamu masih disini? bukankah aku sudah menyuruhmu pergi tadi. Aku butuh sendiri saat ini." Jawab giza setelah jeda beberapa waktu. Lalu giza bangkit dari duduknya. Baru saja giza akan beranjak pergi, tangan vela menahan pundak giza.
"Karena aku sahabatMu." Bisiknya penuh tekanan, membuat giza tetap berada di samping vela berdiri terpaku.
Seakan spasi yang memisahkan antara kata, mereka berdiam dengan jeda yang menghening saat hari yang mulai berganti.
Terdengar lantunan suara adzan, membuat jeda diantara keduanya pecah tanpa suara. Mereka bergegas meninggalkan tempat yang mulai gelap itu, dan berjalan beriringan menuju kamar lantai dua di asrama putri yang tidak jauh dari kampus mereka.
Sebelumnya,
Mereka bertemu di tahun 2011 silam, saat giza liburan keluarga di kota padang, kota asal vela, perkenalan mereka kemuadian berlanjut menjadi sahabat pena, kadang lama terpisahkan waktu. Kadang ada kabar saat telah lama menghilang, karena kesibukan masing-masing. Kemudian pertemuan kedua mereka di tahun 2013. Giza dan vela satu kampus di salahsatu universitas jakarta. Meskipun mereka mengambil jurusan yang berbeda.
Di asrama, malam itu....
Pintu kamar bernomorkan C11 itu, dihuni tiga orang gadis, Giza, Vela, Dan Mia. Mereka mahasiswi dengan jurusan yang berbeda.
Sebelum giza menangis diantara hujan sore itu, hari itu adalah hari terberat untuk giza,
Giza baru kembali dari rumahnya di bandung karena lima hari sebelumnya giza di telepon ayahnya dan menyuruhnya pulang mendadak.
Siang itu, pukul 10.09 Wib, giza sampai di kampus, kedatangannya di sambut bisik-bisik yang membuatnya tidak nyaman. Saat dirinya kebingungan dengan yang terjadi saat dia pulang, teman-teman dari kelas yang sama dengannya. Memberitahukan kabar adanya gosip yang sedang banyak dibicarakan teman kampusnya.
Jibril kekasih giza sejak satu tahun lebih lalu, di kabarkan akan menikah dengan wanita lain, dan lagi kini jibril telah ada di suez canal karena pertukaran mahasiswa.
Giza yang tengah kaget dengan kabar yang diterimanya hanya diam tertegun. Ia hanya berfikir kekejaman pria yang selama ini menemani dan selalu menghiburnya itu. Kini dia akan menikah dan pergi jauh tanpa pamit.
Bahkan sebelumnya alasan giza kembali cepat ke jakarta hanya untuk menemui-nya, sekedar menanyakan kabarnya, karena seminggu sejak sebelum giza berangkat ke bandung, jibril sudah tidak memberi nya kabar.
Giza punya hal yang harus disampaikannya pada jibril, sebuah cerita dan alasan ayahnya yang ingin menemuinya.
Tidak ada tegur sapa giza ke beberapa temannya, hidupnya seperti mati, dia berjalan tanpa tau apa yang dilewatinya.
Beberapa teman dan rekannya yang menyapa-pun hanya diliriknya tanpa balasan.
Sampai kaki nya membawanya ke taman belang kampus yang mulai sepi.
giza terhenti, berdiam diri sampai kakinya lelah dan menjatuhkan dirinya ke hamparan rumput yang di injaknya. giza terbaring memandang langit mendung sore itu.
***
Vela yang mendengar langsung cerita dari giza, setelah selesai sholat isya di asrama itu hanya ada mereka berdua.
Giza akhirnya menceritakan alasan ayahnya yang ditemuinya kemarin.
Ayahnya hanya memberitahukan kalo giza akan di taaruf oleh seorang lelaki pilihan ayahnya, vela mendongakan wajahnya, di tatapnya giza, wajah sahabatnya itu kacau, masih ada sisa tangis di wajahnya.
"Taaruf za?, jibril gimana?'' Tanya vela antusias mendengar penjelasan giza.
"Jibril? Kenapa aku harus memikirkannya? Aku hanya sedang bingung dengan hal yang mendadak seperti ini." Jawaban giza dengan nada datar dan tatapan kosong-nya membuat vela merasa sedikit bersalah,
"Serahkan semuanya pada allah Za. Beristikharahlah sebelum semuanya terjadi..." timpal vela.
Giza tertegun, ia memijat pelan pelipisnya, terlihat jari tangannya yang sedikit keriput sisa dari dinginnya hujan sore itu.
"Sekarang lebih baik kamu istirahat za, kamu pasti lelah hari ini kamu baru sampe dan kena hujan juga, " terus vela.
Tanpa banyak bicara lagi diantara kedunya, giza tidur lebih dulu, sedangkan vela mengoprasikan komputernya yang sempat terhenti saat mendengarkan cerita dari giza, sambil menunggu Mia kembali ke kamar itu. Karena sebelum pergi mia berpesan hanya beli pulsa sebentar dan tidak membawa kunci.
***
Jum'at 10;15 wib
Pagi itu giza terlihat berjalan bersama mia, di lorong lantai dua fakultas hukum.
Hari ini giza hanya ada satu kelas tapi harus menemui senat karena akan ada ivent kampus.
Masih ada beberapa mahasiswa yang membicarakan gosip kemarin yang terdengar telinga giza, . . .
"Kasihan yaaa, ditinggal kawin sama pacarnya, jadi ga bisa dibangga-banggain lagi kan sekarang...!" Celoteh ejekan dari seorang mahasiswi yang menghampirinya bersama dua temannya.
Giza tidak begitu menghiraukannya, dia dan mia melanjutkan jalannya menuju ruang senat.
Ketiga mahasiswi itu Rika,Dina,dan Anisa. Mereka memang sudah lama tidak terlalu suka dengan giza dan temannya, entah karena perbedaan kepercayaan, atau alasan lain yang tidak disadari giza. mereka terus melontarkan ejekan-ejekan yang menguras kesabaran giza,
Terakhir ucapan mereka berhasil membuat giza emosi. Mereka hampir bersiteru.
"Ada apa ini?" Tanya rahiza anggota senat yang datang menengahi di antara mereka.
"Kenapa kalian ribut seperti itu? Seperti anak ABG saja!, za kamu kesini bukan buat berantem kan?!" Lanjut rahiza
"Apa sekarang semuanya menyalahkan aku?!" Jawab giza cepat dengan wajah merah padam.
"Tenang za, sabar... sabar... biarkan aja, bukannya mereka sudah biasa seperti itu, mereka hanya tidak mampu dengan semua pencapayan kamu, makannya mereka selalu iri seperti itu!" Sambut mia memberi pembelaan.
"Apa maksud kamu..! Aku iri sama dia...!?" Tukas anisa dengan sinis.
"Udah cukup, kalian bener-bener ya...!" Timpal rahiza masih menengahi.
"Ini..! kita buktikan dengan ini, siapa yang tidak mampu Sebenarnya!" Tambah anisa seraya menganbil famplet yang ada ditangan rahiza dan melemparkannya ke arah giza.
"Ok..!" Jawab giza singkat setelah hanya melirik sebagian famplet itu, lalu beranjak pergi dengan langkah cepat.
Di ikuti anisa dan temannya setelah sebelumnya menjawab "DEAL!"
Hanya rahiza dan mia yang tersisa, mereka hanya saling menatap tanpa kata, mia mengambil famplet dari lantai dan membacanya.
Isi nya adalah famplet ivent kampus, dan yang mereka sepakati adalah maraton 20k. Mia kaget, dan langsung membawa famplet itu mengejar giza, setelah bekata "kamu harus tanggung jawab iza!" Dan meninggalkan rahiza sendirian.
***
Sore itu, rahiza yang pertama berhasil menemukan giza,
"Kamu disini, ..... aku mau minta maaf soal perkataanku tadi," ucap rahiza memulai percakapan.... namun, tak ada jawaban.
"Aku baru pertama kali liat kamu semarah itu tadi...." lanjut rahiza sedikit berbisik, dan ntah giza bisa mendengarnya atau tidak dari jarak sekitar tiga meter diantara mereka.
Masih tak ada jawaban, . . .
"Hmmmmm... kamu disini za, aku nyariin kamu dari tadi..." tiba-tiba mia datang dengan nafas tersenggal, dan sedikit keringat terlihat dari sudut pelipis dan membasahi ujung jilbabnya.
"Za, kamu harus lihat ini... dan kamu harus membatalkannya..." lanjut mia tanpa menghiraukan kehadiran rahiza.
"Asstagfirullohaladzim..., kenapa aku seceroboh ini, bagaimana ini?" Jawab giza setelah membaca semua isi famplet itu.
"Kamu harus batalin,za..." ucap mia
.
Giza beranjak dari tempatnya sambil membawa famplet itu pergi,
"Mau kemana,za?" Tanya mia seraya mengikutinya, serta di ikuti rahiza.
Giza menuju ruang kelas disana masih banyak mahasiswa/i karena baru selesai kelas. Disana ada orang yang giza cari.
"Nisa, aku mau bicara sama kamu." Ucap giza menghampiri anisa dengan teman-temannya.
"Ada apa lagi, kita udah sepakat kan?" Sambut gadis berambut pirang itu.
"Iya, aku mau membicarakan soal itu. Tadi aku mengambil keputusan sedang emosi. Aku tidak mau melakukan kesepakatan itu...." ucap giza, masih berdiri memandang kearah anisa yang masih duduk.
"Kamu ngomong apa?" Jawab nisa singkat
"Kita tak perlu melakukan itu, hanya demi di bilang mampu kan? Kita bisa cari cara lain, ... " trus giza
"Apa kamu menyerah sebelum perang hmmm... kalo kamu gak kuat lari dengan jilbab dan baju tertutup itu. Lepas aja! Biar kamu bisa terus melanjutkan kesepakatn kita...!" Jawab anisa diiringi tawa kedua temannya.
"Atau memang kamu gak mau karena alasan itu?" Terusnya.
"Yaahhhhh... aku tau sih, memang sulit ya...! Pasti!" Timpalnya lagi melihat giza terdiam.
"Yaaaa. Ok, aku bisa ngeri ko, gapapa ko kalo kamu ga sanggup...!" Sekali lagi dengan wajah yg mengejek.
"Ok. Aku terima kesepakatannya.! Asal kamu tau, jilbab tidak menghalangi aktivitas apapun, apalagi hanya untuk berlari...!" Jawab giza setelah lama tak ada jawaban. Membuat mia,dan rahiza kaget yang sedari tadi di belakangnya.
"Bagus kalo gitu, sebaiknya kamu buktiin omongan kamu, karna kalo kamu gak berhasil, kamu harus melepaskan kain itu!" Balas anisa seraya beranjak dari bangkunya melewati giza..
Anisa adalah seorang ateis.
"Za, maaf ya pasti gara-gara pembelaan aku tadi, dia jadi tersinggung dan nantang kamu kaya gini" ucap mia merangkul bahu giza dari belakang,
".....terimakasih udah bela aku, aku menerima ini karena jilbabku mi, bukan salah kamu..." ucap giza. Masih terpaku.
"Daripada mengucapkan maaf dan terimakasih, saat ini kita tak tahu kan, kata mana yang harus di ucapkan lebih dulu, mmmm... aku bisa bantu, aku jago olahraga lho...," ucap rahiza menengahi.
Hanya mata mia yang melihat aneh ke arah rahiza tanpa kata.
"Hey... jangan melihatku seperti itu. Aku hanya mau membantu, maksudku ayo kita berlatih, seengganya pernafasan dia harus kuat kan? 20k tuh jalurnya..." lanjut rahiza.
"Iya, terimakasih udah mau bantu..." kata giza beranjak pergi.
"Kita mulai besok sore ya, aku tunggu di lapangan belakang!" Suara rahiza sedikit lantang, melihat giza dan mia pergi menjauh.
...
Sore itu, giza kembali ke asrama sendirian, tapi di dalam kamar sudah ada vela yang sedang mengerjakan beberapa tugas di komputernya.
"Assalamualaiku...."
"Waalaikumussalam....."
"Vela, kamu udah pulang duluan?"
"Iya za, tadi banyak banget tugas, kamu ko tumben udah pulang, biasanya paling larut."
"Aku cuma ada kelas, satu. Hanya keliling gak jelas aja,...."
"Masalah yang kemarin ya?"
"Iya..... awalnya."
"Ko awalnya? Maksudnya?"
"Nanti deh aku ceritain, aku ke kamar mandi dulu ya.."
"Iya deh, oh iya, kalo udah mandi itu ada makanan, buat kalian, makan aja... aku mau ke bawah dulu sebentar, ngambil buku."
Iyaaa, makasih..."
Beberapa waktu kemudian, giza keluar dari kamar mandi, belum ada siapapun di dalam kamar.
Dia merasa lapar karena belum makan apapun dari pagi, dilihatnya bungkusan katering yang ditawarkan vela tadi, giza langsung membukanya, ternyata seporsi rujak buah.
"Belum makan si, tapi makan rujak gapapa kali yaaaa, bissmilah...." gumam giza, seraya menyantapnya.
Saat vela dan mia masuk kamar, dilihatnya giza sudah tertidur.
"Tumben banget dia tidur jam segini, " tanya vela keheranan.
"Biarin aja, biar dia istirahat, besok dan seterusnya akan jadi yang berat buat dia.." jawab mia
"Maksudnya? Memangnya ada apa?" Tanya vela, kini mereka telah duduk di kasur masing-masing, yang sejajar ketiganya.
"Tadi giza nerima tantangan dari anisa,..."
"Tantangan apa?"
"Tantangan buat ikut ivent kampus kita.."
"Aku denger si soal ivent di kampus kita itu, tapi gak tau deh acaranya apa?"
"Itu lohh, puncak acaranya kan maraton 20k , tadi nisa nantangin giza buat ikut itu...."
"Trus giza ikut?"
"Iyaaa.. kayanya salah aku deh, tadi aku belain giza, tapi kayanya nisa kesinggung, jadi nantangin gitu..."
"Terus... terus... gimana?"
"Yaaa gituuu, mulai besok giza latihan di bantu sama rahiza, anak anggota panitia ivent itu lho. Tau kan?"
"Oh.. izza... ya tau.. tau... oh ya itu tadi aku beli rujak , yang pedes banget buat kamu, yang ga pedes buat giza.." tawar vela mengakhiri obrolan mereka.
"Makasih yaaa, tau aja kamu, aku suka pedes..."
Vela mengemas buku-buku nya untuk segera tidur, ...
"Ko ga pedes ya vell,..." keluh mia setelah mencicipi rujak yang diambilnya.
"Masa sih? Tadi aku suruh si abangnya masukin 3 sendok..."
"Ini deh, kamu cobain.." seraya menyuapi vela dengan sepotong rujak buahnya.
"Iya, yaaa, apa ketuker ya, sama punya giza..." jawab vela,
"Ga mungkin, punya dia udah abis, kalo pedes mana mungkin dia makan..." tukas mia.
"Iya, yaaa.. oh yaudahdeh maaf ya..."
"Ko minta maaf si, harusnya aku bilang makasih..."
"Gapapa, iya sama-sama, aku tidur duluan yaaa,"
"Iya, aku ngabisin dulu ini..."
°°°
Jam 3 malam vela terbangun karena mendengar suara gaduh dari sebelahnya, vela mengerjapkan mata,setelah kesabarannya pulih, vela melihat giza meringkuk sambil memegang bagian perutnya, keringat membasahi pelipis giza, bibir giza pun pucat.
"Za, ..." panggil vela sambil menggoyangkan bahunya.
Giza tak menjawab, namun semakin memgang perutnya sesekali merintih perih, vela memegang kening giza yang berkeringat, tak panas. Vela berfikir sahabatnya itu sedang PMS.
vela beranjak dari tempat tidurnya, dia. Menuangkan air hangat ke dalam botol.
Lalu menekankannya ke perut giza secara perlahan.
Giza semakin merintih, vela mulai beranjak membangunkan mia disudut lain kamar itu.
Mereka terjaga, mia sibuk mencari obat maag, sedangkan vela, masih mengompres perutnya dengan air hangat.
Keadaan giza tak kunjung membaik, rintihannya semakin sering.
Matanya enggan terbuka. Vela dan mia semakin hawatir dengan keadaan sahabatnya.
Saat adzan subuh berkumandang, vela dan mia masih terjaga, mereka bergegas mencari bantuan setelah mencoba membangunkan giza yang lemas dan tak bisa bangun.
..... akhirnya giza berhasil dibawa ke klinik terdekat berkat bantuan beberapa mahasiswa dan teman-temannya pasca sholat subuh.
Vela tertegun menunggu keadaan giza di ruang kecil kelinik itu, setelah tau bahwa giza sakit lambung.
Dia merasa bersalah, mungkin karena makanan yang ia berikan semalam.
"Vell, kamu ga kuliah hari ini? ..." ucap giza masih berbaring setelah berangsur baik.
"Kamu ga usah mikirin itu za,.. kamu udah enakan kan sekarang? Apa gara-gara makan rujak tadi malam? Mungkin punya kamu sama mia ketuker, tapi kenapa kamu makan.....,"
"Aku baru sembuh udah kamu omelin kaya gini,? .... " tukas giza memotong celotehan sahabatnya.
"Isshhhh... kamu ni, beneran pedes kan semalam?, terus kenapa tetap di makan?"
"Iya, pedes banget... tapi semalem aku belum makan, jadi ya terpaksa diabisin...."
"Kenapa malah senyum kaya gitu...." dengus vela melihat sahabatnya malah tersenyum saat ia merasa bersalah...
"Terimakasih yaaa....., sebaiknya kamu balik ke asrama aja, pergi kuliah gih.... aku baik aja ko disini...." jawab giza.
"Nggak...!" Bersikeras vela.
"Aku mau istirahat ko, jadi ga boleh ditemenin... sanaaa.... "
"Hmmm, kamu kebiasaan ya, melarang orang khawatir....!" Gerutu vela sambil beranjak.. yang dibalas dengan senyum dari sahabatnya itu.
"Kalo perlu apa-apa telpon aku...!" Ucapnya sebelum keluar dari pintu
...
°GUIDE ME ALL THE WAY°
15:41 Wib, lapangan belakang kampus.
Giza telah berada disana lengkap dengan pakayan olahraga longgar yang membalut tubuhnya. warna biru muda senada dengan jilbab yang ia kenakan.
Matanya menyisir seluruh sudut lapangan, terlihat beberapa orang yang sedang berlari kecil, sekelompok remaja yang sedang berkumpul di tengah lapang, dan beberapa hanya berjalan sambil mengobrol.
Giza belum menemukan orang yang ia cari, pandangannya terus melihat ke arah setiap orang,... Dilihatnya wajah yang ia kenali dan sedang dicarinya berada di pojok lapangan dengan beberapa mahasiswa berpakayan seragam.
"Iza,!" Sapa giza melambaikan tangan seraya berjalan gontai menghampiri sekelompok mahasiswa itu.
Terlihat rahiza bangkit dari posisi jongkok sebelumnya, tak ada balasan lambayan tangan, ataupun kata yang keluar, rahiza terlihat menatap heran ke arah gadis yang memghampirinya.
"Kamu disini ternyata, maaf ya aku telat..." celoteh giza setelah berhasil berada di dekat sekumpulan pria itu.
"Kamu, . . . Bukannya sakit? Ngapain kesini?" Ucap iza keheranan melihat gadis yang di dengar kabarnya sakit.
"Allhamdulilah aku gapapa ko,... jadi apa latihan pertamanya?" Lanjut giza.
Terlihat iza masih tercengang melihat giza tanpa berkata apapun.
"Kamu udah lama ya disini?... aku enggak tau mulai latihannya jam berapa, besok-besok kasih tau dulu waktunya...." lanjut giza.
"Kamu beneran gapapa nih? Kalo sakit kita mulai besok aja." Jawab rahiza. "Aku kesini jam dua tadi, aku main putsal, karena taunya kamu lagi sakit kata mia tadi, ... kalo mau latihan, kamu atur aja waktunya, tapi pastinya tiap sore, minggu depankan ivent-nya?" Lanjut iza setelah pertanyaan sebelumnya hanya di balas dengan sebuah senyuman.
"Sekarang kita pemanasan dasar aja dulu, bisa kan? Aku ijin sama temen aku dulu ya, kamu cari tempat yang enak aja..."
Jelas rahiza di respon anggukan giza lalu pergi, mencari tempat yang lebih leluasa melakukan pemanasan dari banyak orang yang sedang olahraga lainnya.
Rahiza berbincang dengan teman-temannya, tak lama ia memisahkan diri lalu mencari giza, dan menghampiri gadis yang sedang melakukan peregangan pemanasan yang dilihatnya itu.
"Udah selesai pemanasannya?" Tanya rahiza.
"Udah ko, mulai lari sekarang...?" Jawab giza.
".....tapi kamu harus tau dulu peraturannya, lari maraton ta harus selalu sampe finish duluan yang menang, karena jaraknya yang jauh, asal kita sampe finish mau di urutan berapapun, kita dapat medali, artinya itu juga menang. Lakukan lari kecil dan perlahan aja dulu di 5k pertama, atur pernapasan, kilometer kelanjutnya kita tambah ritmenya, terus seperti itu, sampai di kilometer terakhir kecepatan kita maximal. Dan kalo ga kuat, sesak,atau udah merasa lelah, sebaiknya jangan berhenti, lanjutin aja dengan lari kecil atau berjalan, hindari juga lari dengan kecepatan tinggi di jalur naik atau turun... ingat yaaa..." jelas rahiza panjang lebar.
"Insyaallah..., kayanya penjelasan kamu barusan tu, harus aku catet deh, biar bisa dihapalin... " jawab giza diakhiri tawa yang nyaris tak terdengar.
"Serius, itu harus di ingat, ... kamu beneran kuat kan?" Tanya rahiza setelah melihat ada sisa pucat diwajah giza.
"Siappp bos... " tukas giza dengan sesikit canda.
"Ok, kalo gitu... di hari pertama ini, kita cukup tiga putaran saja, jaraknya 5k, kamu lari perlahan aja dulu, yang penting bisa atur nafasnya dulu..." lanjut iza.
"Mulai sekarang kan...." seraya mulai berlari dan melewati rahiza dengan senyuman yang tersirat dibibirnya...
Dengan senyuman rahiza menyusulnya, dan berlari di sampingnya mengimbangi kecepatannya.
Mereka berlari melewati beberapa orang, setengah putaran mereka baru melewatinya...
Putaran pertama berhasil mereka lewati, mulai terlihat peluh membasahi pelipis giza, mengalir dan membasahi sisi jilbabnya, nafasnya mulai terdengar berat, rahiza memperhatikan wajah gadis yang tengah fokus diantara kelelahannya.
"Kakinya sedikit berjinggit za mengurangi beban..." ucap rahiza diantara nafas yang telah diaturnya.
"Seperti ini ya..." jawab giza tanpa melirik rahiza...
Keheningan menemani ritme kaki Diantara mereka melewati jalurnya.
1/3 putaran kedua, giza terlihat tidak bisa menahannya, muka nya pucat pasi, nafas yang berusaha diaturnya sudah tak bisa diatur, peluhnya sudah membasahi sebagian dari jilbabnya, rahiza yang melihatnya, segera menyuruhnya berhenti tepat diputaran kedua.
"Kenapa? Baru dua putaran kan? Memangnya boleh berhenti seperti ini?" Tanya giza dengan nafasnya yang tersenggal.
"Untuk hari ini cukup sampai disini, jangan memaksakan....." jawab rahiza sambil menyodorkan botol air mineral ke arah giza yang sedang tertunduk menahan lututnya.
"Aku belum sempet minum ko, itu baru..." terus rahiza melihat giza enggan menerima botol yang ia sodorkan.
giza mengambilnya dan duduk di bantalan jalur lari di pinggir lapangan itu diikuti rahiza di sampingnya.
"Kamu kenapa menerima tantangan si nisa sih za?" Tanya rahiza setelah melihat giza meneguk minumannya.
"Kenapa kamu ga batalin aja, emang sejak kapan kamu suka tersinggung seperti itu?" Lanjut rahiza melirik ke arah giza.
Hening sejenak.
"Aku ga akan marah kalo anisa meremehkan kemampuanku, melontarkan ejekan lain, tapi kalo itu menyangkut identitas muslim aku, aku ga mungkin bisa diam iza, ..... (menghela napas), kamu mungkin gaakan ngerti dengan apa yang aku perjuangkan ini." Jawab giza tertunduk.
"Yaaa, maaf. Aku memang gak mengerti,... (hela napas panjang), akhir-akhir ini aku agak gelisah...." terus rahiza, yang membuat giza mendongak dan meliriknya.
"Aku mulai memikirkan tujuan hidup aku seperti apa? Dan hidup untuk siapa?, aku tak tau apa yang sedang menimpaku ini za, dan aku ingin mencoba menanyakan ini pada seseorang, tapi aku belum menemukan orang yang tepat...." terus rahiza menjelaskan.
"Apa ada hal yang membuat kamu berfikir seperti itu?" Tanya giza, menatap langit.
"Yah, kamu tau anggota panitia ivent kampus kita, mereka semua sama seperti kamu, selama satu bulan kami bertemu beberapa kali untuk mengadakan rapat, beberapa kali itu juga, mereka mengajakku mengerjakan ibadah yang sering mereka lakukan, tanpa bertanya apa agamaku..."
"Lalu...?" Tanya giza memotong
"Aku mengikuti mereka....., (melirik giza) apa aku salah?" Tanya rahiza.
"Kenapa kamu tidak bilang jujur, kalo kamu tidak seagama dengan mereka? Kami tidak memaksa orang beda agama untuk mengikuti kami." Jelas giza mulai mengalihkan pandangannya kedepan setelah mata rahiza menangkap matanya.
"Aku hanya ingin tau rasanya bertemu tuhan kalian,...."
"Lalu... apa? Agamaku bukan permainan yang bisa di coba begitu saja!" Ucap giza memotong jawaban rahiza.
"Maka dari itu, Ajari Aku Agama-mu." Jawaban rahiza membuat giza tertegun sejenak.
"Mungkin kamu orang yang tepat yang bisa menjawab kegelisahanku tentang masalah ini..." lanjutnya.
"Kamu serius...?!" Tanya giza yang mulai berani menatap wajah pria itu, seakan mencari rona serius di wajah putih yang mulai memerah itu.
"Iya, aku udah memikirkannya cukup matang, selama ini aku sadar, aku hidup entah untuk siapa, hartaku entah untuk apa, waktu luangku entah aku bisa gunakan untuk apa..." jawaban rahiza sekali lagi membuat giza tertegun lebih lama.
"........juga, setelah aku melihat kesungguhan kamu mempertahankan identitas kamu, aku semakin yakin dengan keputusanku. ......... jadi, kalo kamu sudah menyelesaikan ini, maukah bantu aku mengenal Agama-Mu? ..." lanjut rahiza menjelaskan dengan kata yang menggantung diakhir kalimat.
".....aku kan udah bantu kamu, dan aku bakal bantu kamu sampai selesai, jadi.... setelah ini selesai, maukah kamu bantu aku...?" Lanjutnya.
Dilihatnya mata giza yang sedari tadi berkaca-kaca mulai mengeluarkan air mata yang menganak sungai dipipinya.
"Kamu kenapa za?" Tanya rahiza keheranan.
"Aku terharu, sungguh maha besar Allah, ia menurunkan hidayah dengan cara yabg tidak kita sadari.....," jawab giza seraya menghapus air matanya.
"Insyaallah, aku bantu...." lanjut giza dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Pukul 17:20 Wib.
Giza dan rahiza memutuskan mengakhiri latihannya, giza kembali ke asramanya. Disana vela dan mia telah menunggunya dengan cemas.
"Assalamualaikum...."
"Waalaikumussalam.....!"
"Za, kamu darimana aja sih?, kita nyari kamu ke klinik katanya sudah pulang, tapi kamu tidak ada disini, .... " lanjut vela setelah menjawab salamnya.
"Kamu darimana? Dengan pakayan seperti itu? .... (jeda) .. jangan bilang kamu mulai latihan lari?" Timpal mia dengan nada kesal, setelah melihat penampilan giza dari atas sampai bawah.
".... giza, kamu ni......"
"Udah, gapapa ko, kalian kenapa jadi sering ngomel akhir-akhir ini... :-) " tukas giza memotong celotehan vela dengan senyum diakhir kalimatnya.
"Kami khawatir tau... masalahmu akhir-akhir ini terlihat berat banget...." terus vela dengan kekesalan yang tersisa.
"Kamu beneran udah baikan? Udah makan belum...?" Lanjut mia.
"Iya... aku mandi dulu ya, kalian kalo mau nerusin ngomelnya nanti aja sambil kita makan bareng, aku teraktir kalian...." ucap giza seraya melewati dua sahabatnya, dan menyisakan wajah melongo dari kedunya.
Setelah selesai melaksanakan sholat magrib berjamaah, ketiga gadis itu makan malam di resto siap saji yang ada tepat di sebrang gerbang asrama mereka.
suasana makan malam mereka sangat hangat akan kekeluargaan.
"Udah lama ya, kita gak makan bareng kaya gini..." ucap mia membuka pembicaraan setelah mereka menghabiskan makanan mereka.
"Iyaaa.... uhhh kangennn...." sambung vela.
"Syukurlah, kita masih diberi kesempatan buat makan bersama,..." jawab giza.
Obrolah mereka semakin asik membahas berbagai kenangan mereka.
Giza tertegun, teringat ucapan rahiza dilapangan sore itu.
"Za, kamu kenapa? Sakit lagi?" Tanya mia.
"Enggak papa ko," jawabnya.
"Pasti kamu mikirim uda jibril sama calon taaruf kamu ya? ...yang sabar yaa.." ujar vela, melihat kearah giza.
"Bukan karena itu......tapi rahiza..."
"Uhhjj... kamu cepet banget move on nya?!" Ucap mia memotong ucapan giza.
"Tapi iza kan ateis!" sambung vela dengan nada kasar dan mimik yang terlihat kesal.
"Kenapa kamu vel," tanya mia.
"Hmmm, kalian apaan si, aku tau iza memang ateis, tapi dia mau jadi mualaf...." jawab giza menjelaskan,
"Seriuss.....?" Tanya vela dengan mata berbinar.
"Ih, kamu kenpa si vel?" Tanya mia kedua kalinya, karena melihat ekspresi vela berubah dengan cepat, menanggapi cerita giza. Giza yang memperhatikan tingkah sahabatnya itu, berfikir bahwa sahabatnya menyukai pria yang sedang di bahasnya saat itu.
"Iya, dia mau jadi mualaf, dia minta bantuan tadi,..."
"Kalo gitu bagus dong, kita bantu aja...." sahut vela memotong ungkapan giza.
"Ihhh... kenapa dengan anak ini, za. Dia semangat sekali membahas si iza ini!" Ucap mia kembali menanyakan sikap vela.
"Hmmm, aku bayar dulu ya, sebentar lagi solat isya,..." ucapan giza menutup semua ceritanya dan beranjak dari tempatnya menuju kasir.
***
Keesokan harinya, giza dan teman-temannya melakukan aktivitas seperti biasa, masuk sesuai kelas masing-masing.
Siangnya, pukul 14:05 Wib, giza sudah berada di lapangan dengan pakayan olahraganya, rahiza telah menunggunya disana lebih dulu.
Mia dan vela, menyusul giza, setelah sebelumnya mereka janjian bertemu disana.
Giza dan rahiza sedang melakukan pemanasan, saat vela dan mia datang menghampiri mereka.
"Semangat ya za....!" Teriak vela melihat sahabatnya mulai berlari, tapi mata vela tak berhenti melihat pria yang berlari disamping giza.
Dilihatnya pria itu mengucapkan sesuatu pada giza.
"Jadi apa yang harus aku lakukan untuk mengawalinya?" Tanya rahiza seraya terus mengimbangi giza agar tetap berlari disampingnya.
"Tak sulit, permulaannya, hanya jujur...." jawab giza disela nafas yang mulai tersenggalnya.
"Jujur...? Dalam hal apa?"
"Semua hal, jujurlah pada diri sendiri dulu..."
"Misalnyaaa...?"
"Jika kamu melakukan kesalahan, kamu jujur pada dirimu kalo itu hal salah, dan harus diperbaiki."
Mereka berbincang tanpa sadar telah melewati vela dan mia
Dilihatnya vela dengan wajah kesal dari kejauhan..
Menyadari sahabatnya yang menyimpan rasa pada pria disampingnya, giza menambah ritme berlari nya, dan meninggalkan rahiza di belakang.
"Za, kontrol ritme-nya. Nanti kamu busa cedera di KiloMeter terakhir." Ujar rahiza seraya mengejar giza.
Giza tak menghiraukan ucapannya, ia terus berlari agar bisa jaga jarak diantara mereka.
Dua putaran sudah mereka lewati. Giza berusaha keras agar bisa menyelesaikan putaran terakhirnya.
1/4 putaran terakhir kakinya tersandung tali sepatu Yang lepas.
Giza terjatuh, lututnya membentur bantalan batas jalur lari. Rahiza,Vela,Dan mia, berlari menghampirinya.
Tangan Vela Dan mia sigap membantu Giza berdiri.
"Kamu gak papa?" Tanya rahiza saat tepat sampai didepannya.
"Enggak... aku gapapa, makasih...." jawab Giza berusaha duduk do Bantu Vela dan mia.
"Kamu udah berhasil lewatin 5k pertama, ... tapi... kamu tidur jam berapa semalam?" Tanya rahiza Tampa menghiraukan Vela & mia Yang Ada disana.
".... jam 11..." jawab giza dengan nafas yang tidak stabil.
"Pantas saja, kamu harus istirahat yang cukup. Karena selain butuh proses, kita juga harys me-manej waktu dengan tepat, tubuh kita harus fit." Tambah rahiza.
"Aku harus memgerjakan makalahku..." jawab giza.
Melihat giza dan rahiza yang bercengkrama tanpa memghiraukan keberadaannya, vela pergi tanpa pamit.
"Vel, kamu mau kemana?" Kata mia melihat vela pergi begitu saja, dan tidak menjawab pertanyaannya.
Menyadari kekesalan vela, giza berusaha berdiri dibantu mia.
"Kita pulang aja mi, mungkin vela kebelet. Makasih ya iza untuk hari ini..." ucap giza setelah berhasil berdiri di samping mia.
"...... lalu, setelah jujur, apa poin berikutnya..?" Tanya rahiza beranjak dari tempatnya.
"Lakukan saja dulu poin itu, besok aku beritahu kamu lagi..."
Mereka kembali ke asrama pukul 16:51 Wib, tidak ada vela di kamar. Giza memperilahkan mia untuk mandi lebih dulu. Dan giza pergi tanpa sepengetahuan mia, ia mencari sahabatnya.
"... giza, kamu menyerah saja, belum apa-apa kaki kamu sudah pincang kaya gitu...." tiba-tiba suara perempuan menghampiri giza dari arah belakang, tangannya memegang pundak giza,
"Aku baru tahu kepalaMu sekeras itu, ya...?" Lanjut suara di belang nya itu, yang kali ini membuat giza berbalik.
"Kenpa? Apa sekarang kamu sudah belajar untuk arogan?" Timpal anisa setelah berhadapan dengan giza
"Asstagfirullohaladzim...,!" Ucap giza seraya menundukan kepalanya, berusaha sabar menghadapi anisa.
"Semoga bisa sampe finish ya..!" Ucap anisa penuh tekanan, lalu pergi, giza menatap punggung wanita itu beranjak menghilang dari pandangannya.
Giza duduk di bangku terdekatnya dengan perasaan penuh tekanan, jantungnya berdegup tak beraturan.
.
Ia kembali ke asramanya, niatnya mencari sahabatnya ia urungkan.
"Assalamualaikum....."
Salam giza mengiringi saat masuk ke kamar asramanya, dilihatnya mia sedang tiduran dengan earphone ditelinganya.
Terdengar suara keran kamar mandi, nampaknya vela sudah kembali.
Giza duduk di kursi meja belajarnya, kini kaki nya dirasakannya sakit perih.
Dilihatnya dilipat celana trening longgarnya, terlihat goresan luka kecil dan memar disekeliling lukanya tepat di atas lututnya.
Tak lama vela keluar dari kamar mandi, giza menyembunyikan luka nya.
"Kamu udah selesai,..." tanya giza yang beranjak dari tempatnya berusaha menyembunyikan lukanya dengan sigap mengambil handuk miliknya yang ada di dekat kursi itu.
Meski pertanyaannya ta ada tanggapan apapun dari vela, giza berfikir sahabatnya itu masih terbakar api cemburu.
Giza masuk kekamar mandi dengan kaki pincangnya.
***
Hari-hari berikutnya, giza mendapatkan beberapa goresan di kaki nya, lecet dan sebagainya, ia tetap melanjutkan latihannya yang semakin serius,
Giza mulai merasakan ada jeda dengan sahabatnya, kini vela tak peenah menegurnya lagi, giza ta bisa tidur, dia selalu terjaga di sudut kamarnya memikirkan semua hal yang membuatnya tak bisa tidur dan tak enak makan.
"Aku akan menjelaskan semuanya pada vela saat semuanya ini berakhir, kalo aku tidak ada apa-apa dengan rahiza.." gumamnya malam itu, melihat kedua sahabatnya tengah tertidur lelap.
Hari ini adalah hari terakhirnya latihan, semalaman giza tidak bisa memejamkan matanya.
"Kamu kenapa? Ini hari terakhir kita, kenapa dengan staminamu itu?" Tanya rahiza melihat giza yang tak kuat hanya dengan empat putaran saja, padahal sebelumnya ia sudah bisa menyelesaikan semua putarannya.
"Ok, untuk hari ini dirasa sudah cukup, tapi besok, besok adalah hari yang kamu tunggu, sebaiknya kamu memyiapkan stamina maxi, hilangkan dulu yang mengganggu pikiranmu, tidur yang cukup...." saran rahiza.
Mereka duduk di tanah melepas lelah,
"Poin selanjutnya kamu harys menemui ustadz setelah ini berakhir dan mengucapkan rukun islam pertama....." ucap giza tiba-tiba setelah hening sejenak.
"Apa...? Apa aku udah siap? Apa semua poin yang aku kerjakan sudah bisa disempurnakan dengan membaca rukun pertama itu?"
"Iya, kamu belajar lebih cepat daripada aku, jadi besok malam di masjid asrama kamu harus bertemu ustadz dan membuat niat kamu itu menjadi nyata." Ucap giza melihat kearah rahiza.
Dari kejauhan giza melihat vela yang berjalan cepat menjauh keluar dari area lapangan.
Giza merasa sangat bersalah, pasti sahabatnya itu sekarang berfikir giza sudah lebih jauh dengan pria yang disukainya.
"Kamu kenpa za?" Tanya rahiza melihat giza diam seketika.
"Gapapa, aku pulang duluan ya,..." ucapnya bangkit dari tempatnya dan pergi begitu saja...
"Siapkan staminamu buat besok, semangat!"
Suara rahiza terdengar dari kejauhan, giza menoleh kebelang tanpa kata. Lalu meninggalkan lapangan.
Saat giza sedang mencari vela, dilihatnya vela sedang berbicara dengan Anisa, entah apa yang sedang dibicarakannya.
Giza pergi kearah lain, mencari jalan lain untuk sampai tanpa harus melewati mereka.
Giza tercenung sendirian dikamar asramanya, pakayannya sudah lengkap dengan warna yang senada dengan jilbabnya.
"Eh za, masih disini. ... kenapa belum berangkat?" Tanya mia tiba-tiba masuk.
"Aku gak jadi pergi, dosennya ga jadi datang" jawabnya dengan nada datar.
"Oh, eh besok semoga berhasil ya..., aku pasti dukung kamu paling depan deh," lanjut mia.
"Assalamualaikum....." suara salam daru vela, membuat jeda pembicaraan giza dan mia.
"Waalaikumussalam...." jawab mereka.
Mata vela tak berani melirik kearah giza, entah apa yang sudah vela dan anisa bicarakan tadi.
Giza, hanya diam dan kembali tertunduk melihat paket kerjaannya yang belum selesai.
°°°
Pukul 20.01 Wib
Giza telah tertidur lebih awal, mia dan vela masih memgerjakan pekerjaan mereka.
"Besok, kita harus bawa properti ya, saat dukung giza,..." ucap mia mengawali.
"Untuk apa?" Jawab vela singkat.
"Ya, biar dia semangat...! Bawa apa ya...? Atau bikin namanya ada.di keetas karton ya?" Lanjut mia
"Atau kamu punya ide lain?" Terusnya.
"Terserah kamu aja.." jawab vela acuh.
"Sebenarnya aku gak tau ada apa diantara kalian, tapi yang pasti kalian pasti bisa nyelesein masalah kalian sendiri, kalian sudah berteman lama kan dibandingkan dengan aku.?" timpal mia, dilihatnya vela sudah berbaring di kasurnya, entah tidur atau hanya tak ingin mendengarkannya.
"Hmmmm... selamat tidur semuanya, semoga besok lebih baik...." ucapan mia menutup malam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar